Cikal bakal nama Provinsi Sumatera Barat


Cikal bakal nama Provinsi Sumatera Barat dimulai pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), digunakan untuk sebutan wilayah administratifnya yakni Hoofdcomptoir van Sumatra's westkust. Kemudian dengan semakin menguatnya pengaruh politik dan ekonomi VOC, sampai abad ke 18 wilayah administratif ini telah mencangkup kawasan pantai barat Sumatera mulai dari Barus sampai Inderapura.[7]
Seiring dengan kejatuhan Kerajaan Pagaruyung, dan keterlibatan Belanda dalam Perang Padri, pemerintah Hindia Belanda mulai menjadikan kawasan pedalaman Minangkabau sebagai bagian dari Pax Nederlandica, kawasan yang berada dalam pengawasan Belanda, dan wilayah Minangkabau ini dibagi atas Residentie Padangsche Benedenlanden dan Residentie Padangsche Bovenlanden.[8]
Selanjutnya dalam perkembangan administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, daerah ini tergabung dalam Gouvernement Sumatra's Westkust termasuk wilayah Residentie Bengkulu yang baru diserahkan Inggris kepada Belanda. Kemudian diperluas lagi dengan memasukan Tapanuli, dan Singkil. Namun pada tahun 1905, wilayah Tapanuli ditingkatkan statusnya menjadi Residentie Tapanuli, sedangkan wilayah Singkil diberikan kepada Residentie Atjeh. Kemudian pada tahun 1914, Gouvernement Sumatra's Westkust, diturunkan statusnya menjadi Residentie Sumatra's Westkust, dan menambahkan wilayah Kepulauan Mentawai di Samudera Hindia ke dalam Residentie Sumatra's Westkust, serta pada tahun 1935 wilayah Kerinci juga digabungkan ke dalam Residentie Sumatra's Westkust. Sementara wilayah Rokan Hulu dan Kuantan Singingi diberikan kepada Residentie Riouw pasca pemecahan Gouvernement Sumatra's Oostkust, serta juga membentuk Residentie Djambi pada periode yang hampir bersamaan.[7]
Pada masa pendudukan tentara Jepang, Residentie Sumatra's Westkust berubah nama menjadi Sumatora Nishi Kaigan Shu. Atas dasar geostrategis militer, daerah Kampar/ Bangkinang dikeluarkan dari Sumatora Nishi Kaigan Shu dan dimasukkan ke dalam wilayah Rhio Shu.[7]
Pada awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah Sumatera Barat tergabung dalam provinsi Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Pada tahun 1949, Provinsi Sumatera kemudian dipecah menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Sumatera Barat beserta Riau dan Jambi merupakan bagian dari keresidenan di dalam Provinsi Sumatera Tengah. Pada masa PRRI di Sumatera, Pemerintah Pusat berdasarkan Undang-undang darurat nomor 19 tahun 1957, Provinsi Sumatera Tengah dipecah lagi menjadi 3 provinsi yakni Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, dan Provinsi Jambi. Wilayah Kerinci yang sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, digabungkan ke dalam Provinsi Jambi sebagai kabupaten tersendiri. Begitu pula wilayah Kampar, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi ditetapkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau. Selanjutnya ibu kota provinsi Sumatera Barat yang baru ini adalah masih tetap di Kota Bukittinggi. Namun berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat No. 1/g/PD/1958, tanggal 29 Mei 1958 secara de facto menetapkan Kota Padang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Barat

Riwayat Datangnya Suku Chaniago dari Minang ke Nias

Seorang bangsawan Minang asal Pariangan Padang Panjang bernama Nyik Puncak Alam dari suku Chaniago bergelar Datuk Raja Ahmad yang disertai penghulunya Ahmad Sirinto dan Si Kumango berlayar menuju Aceh Barat dengan sebuah kapal layar (picalang) yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap termasuk beberapa pucuk meriam. Misi pelayaran ini adalah untuk berdagang. Dalam penuturan lain disebutkan bahwa misinya untuk mencari Mamaknya (saudara laiki-laki Ibu) yang telah lama berlayar ke Negeri Aceh, bernama Tuanku Kariem.

Saat itu pantai barat Sumatera sangat tidak aman, akibat merajalelalanya perampok dan bajak laut. Masalah keamanan ini tidak bisa ditangani dengan baik oleh Kesultanan Aceh yang mulai melemah sepeninggal Sultan Iskandar Muda.
Menurut catatan para pemuka-pemuka adat Ilir Gunungsitoli, yang dikutip dari tambo lama, disebutkan bahwa kapal layar Datuk Raja Ahmad tiba di Teluk Belukar/ Talu Baliku (Sekarang bernama Muara Indah), yang berlokasi di Desa Afia Kec. Tuhemberua) pada 1111 H. atau sekitar tahun 1690 M. Dalam tulisan lain menyebutkan pada 11 Safar 1111 H.
Kedatangannya ini sendiri awalnya hanya sekedar berlindung dari amukan badai. Namun belakangan Datuk Raja Ahmad bersedia tinggal di Pulau Nias atas permintaan dari raja-raja di Nias yang berdua di Negeri Laraga Talu Idanoi yaitu Balugu Aforo Laowofa untuk membantu mengatasi serangan bajak laut yang semakin mengganas di wilayah pesisir pantai Pulau Nias.
Kesediaan Datuk Raja Ahmad ini didahului dengan adanya kesepakatan dengan raja-raja Nias. Adapun isi kesepakatan antara Datuk Raja Ahmad dan raja-raja Nias, seperti dikutip dari “Sejarah Koto – Benteng Kuno” tulisan AR. Sutan Ibrahim dan Sutan Amin Alam, halaman 6 paragraf 5, adalah sebagai berikut:
Seketika itu maka bertanyalah Datuk Raja Ahmad: “Kalau hamba berdiam disini, apakah pemberian Raja-raja kepada hamba?
Maka menjawab Raja-raja Nias yang berdua: “Bertigalah kita memerintah tanaha ini, sebelah pesisir tepi laut Datuk yang menguasai dan memerintah sampai di kaki gunung yakni dimana-mana sampai pemerintah ta’luk kami, pulang kepada datuk semuanya.
Lalu bersumpah setialah Raja-raja Nias dengan Datuk Raja Ahmad nan tidak cido mencidokan (Pen: Saling mencelakakan/ berkhianat), jika hilang di darat Raja-raja Nias yang mencari, jika hilang di laut Datuk Raja Ahmad yang mencari. Maka dalam pada itu terdengarlah pula kepada Raja kepala suku Telaumbanua Raja Awuwuoha, turut menjadi sepakat seia bersama-sama tolong menolong.
Selanjutnya seperti disebutkan dalam “Riwayat Kedatangan Suku Aceh di Pulau Nias”, Datuk Raja Ahmad tinggal di Pulau Nias dan bertemu dengan Teuku Polem dan kemudian menikah dengan putrinya yaitu Siti Zohora. Perkawinan Datuk Raja Ahmad dan Siti Zohora ini dikaruniai tiga orang putra yaitu:
1. Datuk Raja Jamat
2. Raja Mangkuto
3. Datuk Raja Malimpah
Setelah melahirkan anak pertama, Siti Zohora meminta suaminya Datuk Raja Ahmad untuk menjemput kakaknya Si Meugang ke Meulaboh. Oleh Datuk Raja Ahmad permintaan ini dipenuhi dengan mengutus penghulunya Ahmad Sirinto. Teuku Simeugang dan Si Acah akhirnya pulang kembali ke Nias dengan membawa beberapa tanda mata peninggalan kakeknya Teuku Cik berupa persenjataan dan meriam, Badi Suasa, Cerana Perak dan barang-barang berharga lainnya.
NDRAWA SOWANUA
Wilayah tempat tinggal Datuk Raja Ahmad ini kemudian berkembang menjadi sebuah “koto” (Koto dalam bahasa Minang berarti Kota). Koto ini juga sekaligus menjadi benteng pertahanan dari gangguan kemanan dan musuh dan dilengkapi dengan beberapa pucuk meriam. Meriam-meriam peninggalan tersebut hingga kini masih dapat ditemui, yaitu di Kelurahan Ilir Gunungsitoli, tepatnya di persimpangan jalan Diponegoro.
Seiring dengan semakin berkembangnya penduduk dan wilayah, koto ini dinamakan Arö koto atau Kampung Dalam. Wilayah tersebut terletak di perbatasan antara desa Mudik dan Kelurahan Ilir, tepat disisi Kali Nou. Ada juga yang menyebutkan bahwa penamaan Arö Koto ini sesuai dengan nama kampung asal Datuk Raja Ahmad di Pariangan yaitu Kampung Dalam, Pariangan Padang Panjang di Sumatera Barat.
Pemilikan wilayah dan daerah kekuasaan pesisir pantai oleh Ndrawa ini telah disahkan secara adat oleh lembaga adat yang diselenggarakan oleh pemimpin para Ndrawa dengan raja-raja Nias yang disebut FONDRAKÖ.
FONDRAKÖ pertama diselenggarakan di Mbuniö dan Heleduna (berlokasi di kaki bukit Lasara). Sehingga sejak saat itu kedudukan para Ndrawa sama dengan penduduk asli Nias dan mereka disebut sebagai NDRAWA SOWANUA, yang artinya pendatang yang mempunyai negeri atau kampung.
Sehingga tidak mengherankan jika hingga sekarang, umumnya para kota atau kampung di sepanjang daerah pesisir pantai Nias adalah merupakan pemukiman dari keturunan Aceh dan Minang.
Sumber tulisan:
Sedjarah Ringkas Kampung Ilir dan Jang Berhubung dengan Itu, oleh Tadjudin Alam (Mantan Kepala Kampung Ilir), 29 Februari 1952.
Sejarah Koto Benteng Kuno, oleh AR. Sutan Ibrahim dan Sutan Amin Alam, 28 Mei 1938.

semua teman kita: Bob Marley

semua teman kita: Bob Marley: Kapten Norval Sinclair Marley adalah seseorang yang berperawakan kecil. Ia adalah seorang pengawas tanah perusahaan Crown Lands, milik Pe...

semua teman kita: Cahaya di Hutan Kubu

semua teman kita: Cahaya di Hutan Kubu: Ketika musim hujan tiba dan sungai menjadi berbahaya untuk diseberangi maka mereka hanya bisa termangu menatap sekolah dari kejauhan di...

Bob Marley II



Bob Marley melakukan 2 pertunjukan di Madison Square Garden dalam rangka merengkuh warga kulit hitam di Amerika Serikat. Namun pada tanggal 21 September 1980, Bob Marley pingsan saat jogging di NYC’s Central Park. Kankernya telah menyebar sampai otak, paru-paru dan lambung. Penyanyi reggae inipun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Miami Hospital pada 11 Mei 1981 di usia 36 tahun, dengan meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.
Terlihat jelas melalui sinar matahari jamaika kamu dapat memilih bagian dari dongeng tentang Marley antara lain : tentang kesedihan, cinta, pemahaman, dan Godgiven talent.
Dua dekade setelah dia meninggal, Imensitas (kebesaran) Bob Marley menempatkannya menjadi satu di antara figur-figur transenden terbesar sepanjang abad. Riak-riak yang dilakukannya menyebrang dari sungai musiknya kedalam samudera politik, etika, gaya filsfat, dan agama (Rastafaria). Bob Marley dimasukkan ke dalam Rock n Roll Hall of Fame pada tahun 1994. Majalah time memilih lagu Bob Marley & The Wailers Exodus sebagai album terbersar pada abad ke-20. pada tahun 2001 ia memenangkan Grammy Lifetime Achivement Award.
Pada tahun yang sama kemudian film documenter tentang hidupnya dibuat oleh Jeremy Marre, Rebel Music, dinominasikan untuk The Best Long Form Music Video documentary at the Grammies, serta penghargaan untuk beberapa kategori lainnya. Dengan kontribusi dari Rita, The Wailers, dan para pecintanya serta anaknya, film tersebut menceritakan tentang Marley, yang juga disertai kata-kata Marley sendiri. Pada musim panas tahun 2006, Kota New York memberikan penghargaan tersendiri bagi Bob Marley dengan memberi nama pada jalam gereja dari jalan Ramsen ke East 98th street dibagian timur Brookliyn dengan memberi nama “Marley Boulevard”. Dan masih banyak lagi penghargaan yang Bob Marley dapatkan.
Kisah hidup Bob Marley adalah sebuah arketipe, itulah kenapa karya-karyanya abadi dan terus bergema. Bob Marley berbicara tentang represi politik, wawasan metafisik dan artistic, kesejahteraan dan apa saja yang mengusiknya. “No Women No Cry” masih akan terus mengahapus air mata dari wajah seorang janda “Exodus” masih akan memunculkan ksatria, “Redemtion Song” masih akan menjadi tangisan emansipasi untuk melawan segala tirrani, “Waiting in Vaint” akan tetap menggairahkan, dan “One Love” akan terus menjadi himne internasional bagi kesatuan kemanusiaan didunia melampui batas-batas, melampui kepercayaan-kepercayaan, di mana tiap orang akan sadar dan mempelajarinya.
Bob Marley bukan hanya sekedar bintang musik yang sebagian besar rekamannya memecahkan rekor internasional, namun ia juga menjadi sebuah figure moral dan religius. Selain Bob Marley kita juga harus mengakui bahwa banyak musisi yang lebih unggul dari penemuan instrumental, gaya vocal gubahan musik, dan sebagainya.tetapi hanya Bob Marley yang dapat membuat kita melihat ribuan orang Hpi dari Mexico, Maori dari Selandia Baru bahkan komunitas-nya di Indonesia (Jogjakarta dan Bali), berkumpul tiap tahun untuk menghormatinya.

Bob Marley


Kapten Norval Sinclair Marley adalah seseorang yang berperawakan kecil. Ia adalah seorang pengawas tanah perusahaan Crown Lands, milik Pemerintahan Inggris yang telah menjajah Jamaika sejak tahun 1660-an yang terletak sebelah utara pulau itu. Pangkat yang disandangnya ia dapat saat menjadi komandan markas di Resimen British Hindia Barat. Suatu saat ia bertemu dengan Cendella, seorang wanita pribumi yang telah mamikat hatinya pada saat dia sedang berkunjung ke distrik Nine Miles. Hubungan mereka menjadi pergunjingan warga setempat karena Ras. Pada Mei 1944 cedella mengejutkan keluarganya karena hamil. Sehingga pada hari jumat dilaksanakanlah pernikahan antara Norval dengan Cendella dan sehari setelah pernikahan mereka, Cendella diungsikan ke Kingston agar tidak tercorek namanya sebagai ahli waris keluarganya.
Dan akhirnya Cendella melahirkan seorang anak yang diberi nama Robert Nesta Marley yang lahir pada pukul 2.30, Rabu Februari 1945 dengan bobot enam setengan pon (3.25 kg) di Nine Miles. Konon pada malam kelahirannya, banyak orang melihat beberapa meteor jatuh, yang menurut keyakinannya akan lahir seorang tokoh besar.
Pada tahun 1950 Cendella pindah ke Trench Town – Kingston. Marley mulay berinteraksi dengan geng-geng jalanan yang kemudian berlanjut menjadi gerombolan bernama “The Rudeboys. Walaupun berperawakan kecil seperti ayahnya, tapi karena kekuatannya ia dijuluki “Tuff Gong”.
Setelah Marley drop out dari sekolahnya ia mulai tertarik dengan musik. Pada awal 1962 Bob Marley, Bunny Livingstone, Peter Mcintosh, Junior Braithwaite, Beverley Kelso dan Cherry Smith membentuk grup ska & rocksteady dengan nama “The Teenager” yang nantinya berubah menjadi The Wailing Rudeboys dan berganti lagi menjadi The Wailing Wailer dan akhirnya menjadi The Wailers.
Pada tahun 1977, Bob Marley divonis terkena kanker kulit, namun disembunyikan dari publik. Bob Marley kembali ke Jamaica tahun 1978, dan mengeluarkan SURVIVAL pada tahun 1979 diikuti oleh kesuksesan tur keliling Eropa.

EVOLUSI, RASISME DAN KOLONIALISME

Evolusi: Mitos Penyembah Berhala Sekitar lima ribu tahun yang lalu, di dataran subur di Timur Tengah, agama paganisme berkembang di Mesopotamia. Agama ini memunculkan sejumlah mitos dan takhayyul tentang asal-usul kehidupan dan alam semesta. Salah satunya adalah kepercayaan pada “evolusi”. Menurut legenda Sumeria, Enuma-Elish, kehidupan pertama muncul secara kebetulan di air dan kemudian berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain. Bertahun-tahun kemudian, mitos evolusi tumbuh subur di peradaban pagan yang lain, yakni Yunani Kuno. Para filsuf Yunani, yang menyebut diri mereka sebagai “materialis”, hanya mengakui keberadaan materi dan menganggap materi sebagai sumber kehidupan. Karenanya, mereka menggunakan mitos evolusi, yang diwariskan bangsa Sumeria, untuk menjelaskan bagaimana makhluk hidup muncul menjadi ada. Demikianlah, Yunani Kuno menjadi jembatan penghubung bagi filsafat materialis dan mitos evolusi. Bangsa Romawi pagan kemudian mewarisi pemikiran ini. Dua konsep dari kebudayaan penyembah berhala ini diperkenalkan ke dunia modern di abad kedelapan belas. Kaum intelektual Eropa yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani kuno mempercayai paham ‘materialisme’ dengan keyakinan yang sama, yakni mereka sangat anti terhadap agama monoteisme. Buku karya tokoh materialis terkemuka, Baron d’Holbach, The System of Nature dianggap sebagai “rujukan utama ateisme”. Dalam hal ini, ahli biologi Perancis, Jean Baptist Lamarck, adalah yang pertama memberikan penjelasan rinci tentang teori evolusi. Teori Lamarck, yang kemudian terbantahkan, menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain melalui perubahan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu lama. Adalah Charles Darwin yang mengulangi dan menyebarluaskan pandangan Lamarck, meskipun agak berbeda. Darwin mengemukakan pandangannya di Inggris tahun 1859, melalui penerbitan bukunya The Origin of Species. Buku Darwin pada hakikatnya adalah penjelasan rinci tentang mitos evolusi, yang awalnya diperkenalkan oleh bangsa Sumeria kuno. Teorinya menyatakan bahwa semua spesies yang berbeda berasal dari satu moyang yang sama, yang terbentuk dalam air secara kebetulan, yang darinya beragam spesies makhluk hidup muncul dalam rentang waktu yang lama. Pernyataan Darwin ini tidaklah didasarkan atas bukti ilmiah, sehingga tak begitu dipercayai oleh para ilmuwan di zamannya. Para ahli paleontologi khususnya, menyadari bahwa keseluruhan teori tersebut sebagian besarnya adalah khayalan Darwin belaka. Catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak mengalami proses evolusi dari bentuk sederhana ke bentuk lebih sempurna. Bahkan makhluk yang hidup ratusan juta tahun lalu memiliki tubuh yang sama lengkapnya dengan yang masih hidup sekarang. Tak ada jejak “bentuk transisi” yang menurut Darwin pernah ada dan yang dianggap menghubungkan satu spesies dengan yang lain. Di tahun-tahun berikutnya, pernyataan lain dari teori ini terbantahkan satu demi satu. Biokimia mengungkapkan bahwa kehidupan terlalu kompleks untuk dapat muncul secara kebetulan sebagaimana klaim Darwin. Bahkan diketahui bahwa pembentukan secara acak molekul paling sederhana tidaklah mungkin, apalagi sebuah sel hidup. Di sisi lain, anatomi menunjukkan bahwa makhluk hidup memiliki disain khas dan masing-masing diciptakan secara terpisah. Singkatnya, teori Darwin tidak memiliki landasan ilmiah. Tapi, teori ini dengan cepat memperoleh dukungan politis dikarenakan “pembenaran ilmiah” yang diberikannya pada kekuatan yang berpengaruh di abad kesembilan belas. Teori Darwin Tentang Ras Manusia Pada tahun 1871, Darwin menerbitkan bukunya yang lain, The Descent of Man. Dalam buku ini ia menyatakan bahwa manusia berevolusi dari makhluk mirip kera. Darwin tak dapat memberikan bukti apapun yang mendukung klaimnya selain membuat sejumlah skenario khayalan. Darwin juga memiliki pemikiran yang menarik. Ia berpendapat bahwa sejumlah ras berevolusi lebih cepat dan, karenanya, lebih maju dari yang lain; sedangkan ras-ras lain dianggapnya masih setingkat dengan kera. Ada satu hal penting lagi tentang teori Darwin, ia membangun keseluruhan teorinya pada konsep “perjuangan untuk mempertahankan hidup”. Menurutnya, konflik sengit, perjuangan berdarah melingkupi alam kehidupan ini. Yang kuat selalu menang melawan yang lemah, dan ini mendorong yang kuat untuk berkembang. Darwin menegaskan bahwa konflik serupa juga berlaku pada ras-ras manusia. Bahkan sub-judul dari bukunya "The Origin of Species: by way of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life" (Asal Usul Spesies: Melalui Seleksi Alam atau Pelestarian Ras-Ras Pilihan dalam Perjuangan Mempertahankan Hidup), dengan jelas mengungkap pandangan rasialnya. Menurut Darwin, ras pilihan adalah ‘bangsa kulit putih Eropa’, sedangkan Ras Asia atau Afrika gagal dalam perjuangan mempertahankan hidup. Darwin melangkah lebih jauh, bahkan mengatakan bahwa ras-ras ini akhirnya akan dihapuskan sama sekali: Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada saat yang sama, kera-kera mirip manusia...tak pelak lagi akan dimusnahkan. Seperti terungkap jelas dalam pernyataan ini, Darwin adalah seorang rasis tulen yang meyakini keunggulan bangsa kulit putih. Ia meyakini bangsa kulit putih pertama-tama akan memperbudak, dan kemudian memusnahkan ras-ras kelas rendah. Gagasan Darwin sungguh mendapat sambutan baik. Di zamannya, bangsa kulit putih sedang mencari teori untuk membenarkan tindakan biadab mereka.Landasan Berpikir Kolonialisme Sejak abad keenam belas, Eropa mulai menjajah berbagai belahan dunia. Penjajah pertama adalah bangsa Spanyol di bawah pimpinan Christopher Columbus. Dalam waktu singkat, penjajah Spanyol menyerbu Amerika Selatan. Mereka memperbudak penduduk asli, ras masyarakat yang sebelumnya hidup damai. Wilayah Amerika Selatan, yang kaya emas dan perak, dirampok oleh para penjarah ini. Penduduk asli yang berusaha melawan dibantai. Menyusul Spanyol; Portugis, Belanda dan Inggris turut ambil bagian dalam memperebutkan daerah jajahan. Di abad kesembilan belas, Inggris menjadi imperium kolonial terbesar di dunia. Dari India hingga Amerika Latin, imperium Inggris mengeruk habis sumber-sumber kekayaan alam. Bangsa kulit putih menjarah dunia demi kepentingannya sendiri. Tentu saja kaum penjajah ini tak ingin dikenang sepanjang sejarah sebagai “penjarah”. Karenanya, mereka berusaha mendapatkan pembenaran bagi tindakannya ini. Mereka berdalih dengan menganggap bangsa terjajah sebagai “kaum primitif atau terbelakang”, bahkan “makhluk mirip binatang”. Pandangan ini pertama kali dikemukakan di masa awal penjajahan, masa ketika Christopher Columbus berlayar menuju Amerika. Dengan menganggap penduduk asli Amerika bukan manusia murni, tapi spesies binatang yang telah berkembang, penjajah Spanyol membenarkan perbudakan yang mereka lakukan. Saat peristiwa ini terjadi, dalih tersebut tidak mendapat dukungan luas. Sebab, waktu itu masyarakat Eropa secara luas masih percaya bahwa semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan dan semuanya berasal dari moyang yang sama, yakni Nabi Adam. Namun, segalanya berubah di abad kesembilan belas. Tumbuh suburnya paham materialime menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan kenyataan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Ini juga berarti kelahiran paham rasisme. Landasan ilmiah rasisme adalah teori evolusi Darwin. Ahli antropologi India, Lalita Vidyarthi menyatakan: Teori Darwin tentang “kelangsungan hidup bagi yang terkuat“ disambut hangat oleh ilmuwan sosial masa itu, dan mereka percaya bahwa manusia meraih tangga evolusi yang berbeda, yang berpuncak pada peradaban bangsa kulit putih. Hingga paruh kedua abad ke-19, rasisme diterima sebagai fakta oleh mayoritas ilmuwan barat. Dengan pandangan rasial seperti ini, Darwin memberikan dukungan penuh bagi penjajahan oleh bangsa Eropa. Imperialisme Inggris zaman Victoria mengambil teori Darwin sebagai dasar dan pembenaran ilmiahnya.

Saya Memilih Onthel!

Kenangan saya terbang ke almarhum Kakek dan sepedanya. Sepeda hitam besar yang presnelingnya berbunyi ‘cik-cik-cik’, yang hanya dimiliki Kakek sebagai petinggi desa, yang tidak sembarang orang boleh memegang apalagi mengendarainya, yang berwibawa dan begitu keramatnya sampai-sampai Kakek menyimpannya di senthong dekat keris dan jimat-jimat, yang diam-diam saya suka menyelinap ke sana lalu dolanan sepeda ‘cik-cik-cik’ itu sepuasnya.Suatu ketika, sepeda kesayangan Kakek itu hilang dicuri maling. Betapa terpukulnya Kakek. Beliau mengurung diri di rumah, duduk diam di kursinya. Murung berhari-hari. Mendung duka menyelimuti desa. Saya juga ikut sedih, meskipun tidak tahu itu karena kakek berduka atau karena saya jadi kehilangan mainan. Sekian lama kemudian Kakek meninggal karena usia tua, tanpa pernah melihat lagi sepeda kesayangannya. Berbilang tahun berlalu, dan tiba-tiba di sore itu, di sudut kota Leiden, saya seperti menemukan sepeda Kakek kembali. Melihat keterharuan di sebuah negeri Belanda, dimana hampir seluruh penduduknya bersepeda onthel (Mr. Faried – Leiden, Holland)“Suatu hari, saya ditawari dua buah sepeda onthel. Satu bermerek Fongers, dan satu lagi Teha. Karena saya hanya perlu satu sepeda, saya bermaksud membeli sepeda Fongersnya saja, sementara satunya lagi saya tawarkan kepada seorang tetangga yang juga ingin membeli sepeda. Setelah tahu harganya, tetangga saya meminta tolong membawakan sekalian sepeda Teha tersebut untuknya. Artinya, tetangga tadi membeli sepeda tanpa melihatnya terlebih dahulu selain hanya mengandalkan kepercayaan atas cerita saya. Ketika saya tampak ragu dengan keputusannya itu, tetangga saya pun memberikan alasan singkat yang memantapkan hati saya. Katanya, semasa SD dulu setiap pagi ia berebut dengan teman-temannya untuk memarkir sepeda gurunya. Sepeda itu bermerek Teha.Saat itulah kami semua sadar, betapa sepeda-sepeda tua berbeda dengan lainnya. Bentuknya yang sederhana, besar, hitam, tidak modis. Penampilan sepeda-sepeda yang ala kadarnya ini begitu saja memunculkan rasa iba, terenyuh, tapi lama-lama memunculkan semacam kedekatan yang indah, bahkan menenteramkan. Memandang sepeda-sepeda ini, yang muncul bukan pikiran logis, analitis seperti saat menghadapi sepeda modern, melainkan semacam keharuan dan keterpanggilan untuk menyentuhnya. Beberapa sepeda tua ini benar-benar memaksa kami berjongkok dan mengelusnya agak lama. Ah, sepeda-sepeda ini hidup!Jika diperhatikan, posisi sadel, stang, dan kayuhan sepeda tua sudah didesain untuk kecepatan tertentu, kecepatan amat terbatas yang justu diyakini sebagai kecepatan ideal bagi pengendaranya untuk “merekam” kehidupan sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Sepeda tua adalah kendaraan yang dipakai saat manusia dahulu masih bisa menghayati irama kehidupan. Kecepatannya yang tidak secepat sepeda motor itu masih memungkinkan bagi pengendaranya untuk saling bertegur sapa, misalnya saat berpapasan atau saat melintasinya. Oleh karena itu, dahulu bel sepeda yang dipakai biasanya adalah bel yang frekuensinya lebar: cukup keras terdengar, tetapi ramah, tidak menyakitkan telinga. Berbeda dengan bel produk saat ini yang nyaring melengking menusuk telinga. Dahulu bel dipakai orang untuk menyapa dan meminta perhatian. Sekarang, bel atau klakson cenderung sebagai ungkapan kemarahan dan kekesalan.Dengan keterbatasan kecepatannya itu, sepeda tua tidak sampai membuat orang memaksa diri (Jawa: nyengko). Orang cuma harus menjaga tegangan antara: cukup santai untuk membuat nyaman, dan cukup cepat untuk bisa mengantar ke tempat yang diinginkan. Orang tidak perlu mengorbankan salah satu dari keduanya.Sepeda tua juga senantiasa mengingatkan generasi dahulu akan keseimbangan arti tanjakan dan turunan, antara berkah dan cobaan, antara saat santai dan saat bekerja lebih keras. Kesadaran ini mengajari orang bersyukur di saat diberi kemudahan, dan bersabar di masa-masa sulit. Pada tanjakan terjal kadang orang harus turun dari sepeda, giliran pengendara yang harus mendorong sepedanya. Keakraban hubungan manusia dengan sepedanya sebagai sarana yang memudahkan pencapaian tujuannya akan menumbuhkan kepekaan terhadap semua yang dimiliki, yang pada saatnya juga mengasah kepekaan terhadap sesama.Sepeda tua telah memberikan energi positif bagi pengendaranya, tanpa disadari energi itu mengajak pengendara ontel untuk bisa belajar bersabar di setiap lambatnya kayuhan demi kayuhan, belajar untuk menikmati dan memahami bagaimana nostalgia dari sebuah sepeda ontel, Kenyamanannya tidak tertandingi, tercipta dengan hasil riset panjang penemu sepeda terdahulu, dengan stang yang tidak lurus dan posisi duduk tidak membungkuk, membuat suasana nyaman dalam berkendara. Di sisi lain, energi positif dari sepeda tua secara langsung telah membuat suasana hati tenang, penuh kesederhanaan, penuh semangat, bersahaja, jauh dari kesombongan dan arogansi, apa yang mau disombongkan ketika naik sepeda tua? Bahkan tidak terasa, percaya diri, senyuman dan sapaan hangat akan selalu bersambut ketika mengendarai sepeda tua.Mengapa bersepeda tua, adalah sebuah pertanyaan sederhana yang telah menuai beragam jawaban. Walau dapat menimbulkan diskusi panjang dengan sudut pandang yang berlapis, seringkali reaksi langsung yang diterimanya adalah gelengan kepala. Bagi segelintir orang yang (mencoba) secara konsisten memilih sepeda sebagai alat transportasi utama - juga terkait dengan hobi, segala isu lingkungan dan kesehatan, maupun solidarisme kelompok - ia bukan lagi sebentuk besi beroda yang menyenangkan melainkan telah bertransformasi sebagai alternatif yang mampu menjadi jawaban yang sederhana bagi beberapa masalah sepele yang terakumulasi, bagai sebuah bola salju yang menggelinding jatuh: polusi, masalah energi, kemacetan. Mengendarai sepeda pun menjadi sebuah sikap politik dari individu yang merasa paling apolitis sekalipun.Inilah Sepeda Tua... yang didalamnya punya Energi... Energi yang bisa dinikmati pengendaranya untuk bisa lebih bersabar dalam setiap kayuhan.. untuk bisa lebih percaya diri akan kebanggan... untuk bisa menghargai, menikmati dan merasakan... sebuah arti kesederhanaan dan persahabatan“ Hidup... Layaknya bersepeda.. kita harus seimbang dan bertahan agar tidak jatuh..”“Sang Velocipede, Sang Sepeda, Sang Kereta Angin.. Empat orang eropa sedang berpegang-pegangan bahu dalam banjar melintas di jalanan. Ini yang dinamai kereta angin. Kencang, cepat seperti angin, lari secepat kuda, tidak perlu rumput, tidak perlu kandang, lebih nyaman daripada kuda, kendaraan ini tidak pernah kentut, tidak butuh minum, tidak buang kotoran “ (Anak Semua Bangsa – Pramoedya Ananta Toer)

HIDUP ITU BERSYUKUR

HIDUP ITU BERSYUKUR Yang tinggal di gunung ingin di kota. Yang tinggal di kota ingin hidup di gunung agar tidak bising. Di musim kemarau merindukan musim hujan. Di musim hujan merindukan musim kemarau. Yang berambut hitam mengagumi yang pirang. Yang berambut pirang mengagumi yang hitam. Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entrepreneur supaya punya time freedom… Begitu jadi Entrepreneur ingin jadi karyawan, biar gak pusing… Waktu tenang mencari keramaian. Waktu ramai mencari ketenangan. Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/istri cantik. Begitu sudah dapat suami ganteng/istri cantik, pengen yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh.. Punya anak satu mendambakan banyak anak. Punya banyak anak mendambakan satu anak saja. Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki. Namun setelah dimiliki tak indah lagi. Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ? “Semoga kita jd pribadi yang selalu bersyukur..Yg snantiasa b’syukur dngn berkah yg sudah kita miliki”. “Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini? Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit. Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi!” Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bumi ini pun akan tampak buruk. Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil. Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk/negatif! Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua… Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yg ikhlas.

Sejarah dan Azas Tamansiswa

Memahami untuk dapat menghayati dan kemudian mengamalkan ajaran ketamansiswaan, pada pokoknya dapat di awali dengan memahami terlebih dahulu sejarah dan asas - asasnya. Pada umumnya bagi setiap murid Tamansiswa di manapun mereka berguru, Ketamansiswaan biasanya terjalin dalam segenap mata pelajaran yang di terimanya, disertai teladan hidup dari para pamongnya.

Kehidupan di lingkunganya perguruan merupakan perwujudan dari pola hidup Ketamansiswaan sesuai dengan apa yang di cita - citakan. Perguruan mencerminkan suasana dan merupakan lingkungan hidup yang bernafaskan asas -asas dan Ajaran-ajaran Ketamansiswanya. Dengan cara demikian para siswa belajar mengenal, memahami dan menghayati ajaran ketamansiswaan, yang selanjutnya akan menjadi pedoman tingkah lakunya dalam pengabdiannya kepada masayarakat, sesamanya dan Tuhan Yang Maha Esa.

Reaksi Terhadap Kolonialisme
Tamansiswa lahir pada jaman penjajahan Hindia Belanda. Peguruan Tamansiswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 juli 1922 di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 mei 1889, dengan nama kecil Suwardi Suryanigrat. Peguruan ini didirikan dalam bentuk yayasan. Latar belakang pendirian adalah bahwa sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sesungguhnya tidaklah diperuntuhkan bagi kepentingan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan politik kolonial Belanda, meskipun Mr. C. Th. Van Den Venter mengatakan untuk penebusan dosa kepada rakyat Indonesia. (majlis luhur taman siswa 1979)
Oleh karenanya adalah wajar, bahwa suasana dan kondisi kolonial turut mewarnai kelahiran tersebut dalam bentuk positif terhadapnya.

Pemerintahan kolonial dengan sistem politik kolonialnya tidak memperhatikan kepentingan rakyat dalam segala bidang kehidupannya. Kepetingan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan , termasuk pula pendidikannya, tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

Hak asasi manusia tidak dihiraukan, kehidupan politik di kekang. Dalam bidang ekonomi terjadi proses kemiskinan dan usaha untuk menjadikan rakyat Indonesia tergantung fihak lain dan tidak mampu berdikari. Perkembangan kebudayaan barat, untuk lambat laun meghilangakan kebudayaan bangsa Indonesia. Melalui pendidikan kolonialnya sengaja diterlantarkan agar supaya rakyat tetap tinggal bodoh, nasionalisme tidak dikembangkan dan justru dilaksanakan “devide et impera”.
Dalam kondisi kemasyarakatan yang demikian itulah Tamansiswa dilahirkan. Menantang untuk dilawan dan ditiadakan. Hal – hal yang tidak sesuai dan bahkan yang bertentangan dengan aspirasi bangsa Indonesia perlu diganti.

Hal – hal yang tidak dikehendaki karena bertentangan dengan aspirasi bangsa Indonesia dan hal – hal yang harus dapat mengantikannya telah melahirkan dan menjiwai asas – asas dan tujuan perjuangan Tamansiswa. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan bahwa kondisi itu turut mewarnai kelahiran Tamansiswa.

Perjuangan Guru Terhadap siswa/siswinya

perubahan pendidikan tak ada hentinya demi prestasi dari guru, siswa / siswi maupun dari pihak sekolah 
mereka berlomba lomba memperjuangkan siswa / siswi nya dengan adanya sistem pendidikan sekarang makin banyak kecurangan pada saat ujian nasiona dengan cara memberikan kunci jawaban terhadap siswa / siswi nya dengan segala cara apapun untuk meluluskan siswa / siswinya. Waktu dulu yang pintar adalah siswa / siswinya tapi sekarang yang pintar adalah gurunya karena untuk mencurangin pada saat ujian nasonal.ini lah pemerintah indonesia yang tak mampu mengatasi kecurangan di saat ujian nasiona 

Cahaya di Hutan Kubu


Ketika musim hujan tiba dan sungai menjadi berbahaya untuk diseberangi maka mereka hanya bisa termangu menatap sekolah dari kejauhan di seberang sungai.
Tempat ini bernama Tanjung Harapan, di tepi aliran Sungai Rupit, pedalaman Rimba Rupit, Sumatera Selatan. Sampai ke sini perlu waktu satu jam dengan perahu motor. Di pemukiman berdiri SD Tanjung Harapan, bangunannya berdinding papan dan cuma punya satu ruang kelas. Ini adalah sekolah bagi anak-anak Suku Anak Dalam, atau yang dikenal dengan Suku Kubu.
Di antara ilalang yang tumbuh hampir setinggi orang dewasa tampak seorang perempuan muda berkulit cokelat, ia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Ia adalah Leorince, guru SD yang sudah mengajar lima tahun di sini ketika kami datang. Ia mengajar di sini karena memang tidak ada guru lain yang mau. Rince, sapaan akrab ibu guru, membawa kami ke rumah dinasnya, rumah kecil sederhana berdinding papan dgn lantai semen bercampur tanah. Ia bilang kalau malam harus hati-hati karena ular dan binatang lain suka masuk ke dalam rumah.
Sore itu di beranda rumahnya sambil duduk minum teh dan memandang tarian ilalang, Rince mulai berkisah ikhwal kedatangannya di Tanjung Harapan. Saat itu Pebruari 1998, lulusan Diploma Pendidikan Guru SD PESAT ini tiba di sini, ia mendapati sekelompok besar keluarga-keluarga Kubu yang tinggal di dalam rumah-rumah sangat sederhana. Kondisi mereka sangat tidak baik, “Mereka tidak peduli dengan kesehatan tubuh, kuku tangan dan rambut mereka sangar kotor, begitu pula pakaiannya, dan jangan tanya soal baca tulis,” cerita Leorince. Bahkan waktu itu hukum rimba masih berlaku di sini, tak jarang aku menjumpai perilaku buruk mereka, lanjutnya.
Tahun pertama di Suku Kubu adalah masa yang sulit. Tidak mudah untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan orang tua maupun anak-anak mereka, kisahnya. Namun kerja keras dan pertolongan Tuhan akhirnya membuahkan hasil ketika satu demi satu anak datang ke dalam kelas.
Waktu berlalu dan perlahan-lahan mereka mulai paham banyak hal tentang ilmu pengetahuan, membaca, menulis, berhitung, cara hidup yang sehat, dll. Mereka sangat rajin datang ke sekolah, berjalan beriringan dan bangga dengan seragam sekolah yang dipakai, aku pun selalu terharu melihatnya, ucap Rince.
Meskipun demikian, lanjutnya, masalah nampaknya masih tetap ada, dan hal ini menyangkut masalah perut. Ruang kelas akan segera menjadi kosong tanpa seorang murid pun yang tinggal saat musim buah tiba. Mereka segera pergi untuk memanen buah-buahan hutan, dan itu bisa berminggu-minggu lamanya. “Tapi mereka akan kembali lagi ke sekolah saat musim panen usai,” kisah Leorince.
Namun waktu jualah yang menjawab semuanya, beberapa anak akhirnya berhasil menamatkan pendidikan SD mereka. “Mereka yang tamat diberikan surat rekomendasi untuk dapat melanjutkan ke SMP,” katanya. Sayangnya, hanya beberapa anak saja yang lanjut sekolah karena SMPnya berada di kota dan sangat jauh dari hutan tempat mereka tinggal.